Minggu, 31 Mei 2009

ADU DOMBA SERUMPUN

Untuk kesekian kalinya hubungan 2 Negara serumpun, yakni Indonesia - Malaysia kembali kurang harmonis. Setelah terangkatnya issue "Manohara" yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga oleh keluarga kerajaan Kelantan Malaysia (red).

Sampai saat tulisan ini diposting, belum jelas pihak mana yang sebenarnya bersalah menurut hukum yang berlaku, karena kasus ini hanya masih sebatas jadi berita dan pernyataan2 kedua belah pihak (kel manohara dan kel Kelantan).

Yang jadi konsentrasi saya, kenapa 2 Negara bertetangga ini selalu dirundung masalah2 yang mengarah pada pertentangan yang tidak perlu. Dari isue yang disebabkan masalah2 besar sampai yang sepele. Ada masalah blok Ambalat, ada perebutan hak paten seni batik, Reog, masalah TKI ilegal, kekerasan thd TKI, dan terakhir adalah masalah rumah tangga Manohara.

Sementara saya heran kenapa dengan Singapura, bahkan Filipina kita baik-baik saja.
Analisa sementara saya adalah karena 2 negara ini (Ina - Malay) sama2 mayoritas muslim.
Ada kepentingan pihak tertentu untuk mengadu domba sesama 2 ummat yang bersaudara ini.
Wallohu a'lam. (insyaAllah berlajut).

ADU DOMBA SERUMPUN

Kamis, 10 Juli 2008

SUNATAN ANAKKU...

Serrr... berdesir rasa hatiku di tengah riuh ramainya suasana arak-arakan penganten sunat anakku. Sedetik aku tersadar, rasanya baru kemaren aku sendiri yang diarak dengan pakaian yang sama yang dikenakan anakku sekarang, yakni gamis putih panjang dan bertutup kepala ala Diponegoro. Bedanya hanya musik pengiringnya, jaman kecil saya hanya didiringi musik rebana, tapi sekarang anakku diiringi sepasukan Group Marching Band cilik lengkap dengan bendera2 dan 3 mayoret.... wah meriah sekali. Seantero kampung langsung berduyun-duyun berkumpul di tepi jalan untuk menyaksikan rombongan pengantin sunat itu.

Perasaan yang sempat terselip adalah betapa sepertinya waktu berlari begitu cepat... aku yang sepertinya belum lama disunat, sekarang sudah nyunatin anak saya... 23 tahun terlewati seperti baru kemaren... dan aku tersadar rasanya belum berbuat banyak dalam hidup selama itu... betapa ruginya aku. Ahh... tapi suasana sekitar segera membuyarkan lamunanku, kulihat anakku begitu menikmati diperlakukan seperti itu. Seakan pisau sunat yang akan menunggunya nanti malam sejenak terlupakan.

Menjelang maghrib, rombongan sampai di rumah Mbah setelah berputar2 keliling kampung. Tampak anggota marching band sudah kelelahan terlihat dari wajahnya yang sudah pada loyo. Setelah mengakhiri lagu terakhir maka mereka makan bersama dan membubarkan diri menuju ke sekolahan lagi.

Waktu berjalan begitu cepat, Selepas Sholat Isya' undangan walimah segera berdatangan, dan seperti biasa mereka langsung menanyakan mana yang akan disunat. Maka aku panggil anakku dan kakak sepupunya untuk duduk berjajar menyalami tamu2 undangan. satu-persatu mereka memberikan amplop sbagai hadiah... anak saya tersipu-sipu melihat ke arahku. Memang aku sengaja tidak mengatakan bahwa orang2 akan memberinya hadiah... Setelah semuanya bersalaman, maka acarapu segera dibuka, Aku mendampingi anakku di depan tamu2 undangan. rencananya acara akan dibuka dengan pembacaan hafalan Juz Amma oleh anakku, penuh 1 juz.

Setelah semuanya siap maka anakku mulai membaca hafalannya, dimulai dengan surat An-Naba, satu surat dia minta minum... kemudian An-Naziat, Abasa, At-Taqwir, Al-Mutofifin, At-Torik dst... sampai An-Nas. Memang tidak sempat semuanya terbaca, karena pak Dokter sudah menunggu, dan nampaknya anakku sudah kelelahan. Tapi itupun sudah sangat bagus kata para tamu teman-teman ayahku. Mereka berkata kepadaku... kalau bisa diteruskan agar bisa hafal seluruh Al-Qur'an, saya hanya bisa berkata, Doakan saja Pak, terima kasih.

Sementara itu Pak Dokter sudah menunggu dengan seluruh peralatannya, melihat itu anakku jadi ngeri... dia langsung lari ke kamar ibunya sambil menangis. Wah, gawat... giliran sudah final malah berubah pikiran kataku dalam hati... Akhirnya dia setuju tetapi dengan syarat sambil makan es krim. hahaha.... untungnya ada eskrim di kulkas. segera saja Anakku dibaringkan sambil disuapin eskrim, dengan sedikit tangisan, akhirnya setelah berlangsung selama 30 menit proses khitanan itu telah selesai... dan Alhamdulillah legalah rasa hatiku. Paling tidak aku telah mengajarkan dan mempraktekkan sebagian dari syariat islam itu kepada anakku.

Minggu, 22 Juni 2008

4 PILAR PENDIDIKAN ISLAMI

Islam adalah agama yang komplit, bukan sekedar ritual ibadah, tapi merupakan sistem yang mengatur kehidupan, yang akan membawa pada keselamatan dunia dan akhirat. Dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, dari urusan toilet sampai gedung parlemen. Termasuk juga dimensi pendidikan, bahkan kata ilmu, yang sangat erat dengan pendidikan, di sebut delapan ratus kali dalam Al Quran. Dengan mendapatkan perhatian sedemikian rupa, menunjukan betapa pentingnya ilmu dalam Islam,. Selain banyaknya ayat Al-Quran yang berbicara tentang ilmu, juga banyak hadis Nabi saw seputar ilmu dan pendidikan.. Di tambah praktek kehidupan para sahabat Nabi saw dan keluarganya, sebagai murid langsung dari Nabi saw.

Pendidikan adalah upaya untuk mewujudkan tujuan penciptaan kita, yaitu beribadah, sebagaimana yang di perintahkan oleh pencipta kita,

“ Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. (QS. Adz dzariyaat. 51 : 56)

Beribadah kepada Allah swt, hanya bisa terwujud bila di awali dengan ilmu. Sebagaimana wahyu pertama yang di turunkan pada Nabi saw adalah Iqra (QS Al-Alaq : 1-5 ), yaitu perintah untuk membaca. Karenanya proses mencari ilmu (pendidikan) adalah ibadah, dari mulai membaca, membeli buku dan alat tulis lainnya, ongkos menuju tempat belajar mengajar, menyapa dan memperhatikan anak didik, kelalahan mengajar, mencari informasi, mengolah bahan presentasi, dst yang mendukung proses pembelajaran, ialah ibadah. Maka dalam hadis lain, di sebutkan bahwa barangsiapa berjalan mencari ilmu, maka Allah swt akan memudahkan jalanya menuju surga. Ya.., jadi sebagai motivasi kita, bila sedang malas belajar atau mengajar, bayangkanlah surga yang di janjikanNya, dan kita sedang melangkah mendekatinya.

Selain itu, tujuan kita di ciptakan ke bumi ini, adalah sebagai khalifah

“ Ingatlah ketika Rabb mu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” ( QS Al Baqarah. 2 :30 )

Berperan sebagai khalifah, wakil-Nya di muka bumi, untuk memakmurkan bumi dan seisinya ini, juga tidak akan tercapai tanpa pendidikan. Bagaimana mengolah sumber daya yang ada, supaya bermanfaat bagi kehidupan, bukan sebaliknya, menjadi ancaman bagi kehidupan. Seperti saat ini, banyak bencana alam, yang terjadi akibat tangan manusia itu sendiri, yang tidak bersyukur mengatur dan mengolah nikmat alam yang melimpah.

Maka, pendidikan (tarbiyah) adalah kewajiban sekaligus kebutuhan. Yang akan membawa kita, bukan hanya pada kebahagiaan di dunia, tapi juga kesuksesan di akhirat kelak.

Bagaimana supaya pendidikan itu berhasil, sehingga kebahagiaan dunia & akhirat bisa tercapai ? setidaknya ada 4 pilar yang mendukung keberhasilan pendidikan, diantaranya :



Uswatun hasanah (teladan yang baik)
“ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” ( QS Al-Ahzab .33:21)

Rasulullah saw adalah guru terbaik sepanjang sejarah manusia. Nabi Muhammad saw menerima wahyu di usianya yang ke 40 tahun, selama 22 tahun, 2 bulan dan 2 hari, sampai akhirnya meninggal di usia 63 tahun, telah berhasil mencerahkan umat dari kegelapan jahiliyah menuju terang benderangnya Islam. Juga para murid – muridnya (para sahabat), 30 tahun sepeninggal beliau saw, berhasil menyebarkan indahnya Islam ke 60 % wilayah dunia. Sebuah ekspansi yang progresif ini salah satu rahasianya adalah keteladanan.

Ada banyak cerita kegagalan pendidikan, karena hilangnya keteladanan. Misalkan merokok, ketidaksederhanaan, ketidak tepatan waktu, kekeliruan komunikasi dan seterusnya, menjadi komoditas yang miskin keteladanan, sehingga wajar bila masih lestari dalam keseharian.



Mau’idzoh Mustamiroh ( pelajaran yang berkelanjutan )
Manusia adalah gudangnya salah dan lupa (bukan sekedar tempatnya salah). Maka di perlukan, tidak sekedar pelajaran yang baik, tapi juga pengajaran yang berulang – ulang.

Ada banyak ayat yang menyuruh untuk memberi peringatan.

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS. QS. Adz dzariyaat 51:55)

“Oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat”
(QS Al A’laa 87: 9)

Pengulangan juga, merupakan teknik yang sangat baik dalam menghafal. Kita bisa menghafal sesuatu, tanpa bermaksud menghafalnya, dengan melakukan pengulangan.



Bi’ah shalihah (lingkungan yang kondusif)
Nabi SAW mengingatkan: “Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum karena kamu bisa membeli minyak wangi darinya atau sekurang-kurangnya mencium bau wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi akan membakar badan dan bajumu atau kamu hanya akan mendapatkan bau tidak sedap“. (HR.Bukhari & Muslim).

Bagaimanapun juga, lingkungan memiliki peran penting dalam pendidikan. Misal, ada pasangan suami istri muda, yang sedang mendidik anaknya supaya sholeh / shalehah, namun karena masih numpang di pondok mertua indah, maka belum bisa terlepas sepenuhnya dari lingkungan sekitarnya (nenek/kakek/ paman/ keponakan, dst), yang di khawatirkan menjadi celah masuknya nilai – nilai yang kurang baik dan tepat. Begitu juga, beda dampaknya bila kita belajar di tempat yang nyaman, memiliki teman yang mendukung, dengan sebaliknya. Memilih lingkungan yang kondusif bagi pendidikan kita atau keluarga kita, adalah hal yang penting, namun bukan berarti lingkungan yang baik itu selalu di cari, tapi bi’ah sholihah ini, juga bisa di ciptakan, dengan membentuk komunitas yang baik. Hidup di lingkungan yang baik adalah nikmat, namun jauh lebih nikmat bila kita bisa menciptakan lingkungan yang baik. Mendapat sahabat yang baik adalah kebahagiaan, namun jauh lebih bahagia bila kita menjadi sahabat yang baik bagi banyak orang.



Manhajussalim ( kurikulum yang selamat)
Kurikulum yang baik dan selamat, adalah kurikulum yang mengacu pada Al Quran dan Sunnah. Karena dengan keduanyalah Islam pada awalnya mencapai kejayaan, dan hanya dengan keduanya pula, kejayaan itu bisa di raih lagi. Kabarnya kurikulum pendidikan di Negara Israel, selalu mengaitkan pada nilai nilai zionisme. Contohnya, dalam pelajaran matematika, bila di sebuah lapangan ada 100 orang muslim, dan 1 orang Yahudi, dan kemampuan 1 orang Yahudi tersebut bisa membunuh 5 orang muslim tiap harinya, maka dalam berapa hari lapangan itu bebas dari orang muslim ? Maka seharusnya kita lebih PD lagi memasukan nilai nilai islami dalam pendidikan, bukan sebaliknya, memisahkan antara pendidikan dengan nilai – nilai agama.

Dalam pendidikan, materi yang baik dan bermanfaat adalah penting, tapi jauh lebih penting metodanya. Dan metoda itu penting, tapi jauh lebih penting gurunya, dan guru itu penting, tapi jauh lebih penting ruhnya ( spiritualnya) . Bila kesemuanya ada, maka insyallah pendidikan akan membekas dan berdampak, walau pendidiknya sudah meninggal sekalipun.



Selamat beribadah dengan pendidikan,
Serta selamat menjadi dan membentuk “agen of change” dengan pendidikan


Wallohu ‘alam

Senin, 02 Juni 2008

DEVIDE AT IMPERA, WASPADA!!!

Entah kenapa, taktik Devide at impera, atau politik belah bambu... atau politik pecah belah ini masih ampuh dipakai sebagai penghancur masyarakat kita. Saat ini saya merasa bahwa taktik ini kembali digunakan, entah sengaja atau tidak sengaja dimanfaatkan oleh pihak tertentu.
Korbannya adalah lagi-lagi umat islam, yaitu diantara kelompok islam "garis keras", "moderat", "sekuler", dan "tradisional".... mereka semua bagian dari umat islam. Mohon maaf kalau saya tidak ikut-ikutan mengecam FPI karena pandangan saya seperti di atas tadi.

Yang juga saya rasakan isu yang berkembang justru melenceng dari isu besar semula yang sebagian besar masyarakat kita sedang memohon-mohon kepada pemerintah untuk membatalkan kenaikan BBM. Dalam hitungan jam sepertinya isu itu lenyap tak berbekas berganti dengan isu bentrokan yang terjadi antara anggota laskar islam / FPI di Monas Minggu, 1 juni lalu. Isu ini bergerak dengan cepat bergulung bagaikan bola salju menghantam pihak-pihak yang selama ini bersikap tegas terhadap Pemerintah, seperti Ormas-ormas islam yang katanya "foundamentalis". Mereka menuai kecaman, menuai tuntutan untuk dibubarkan dll, karena tidak sejalan dengan pandangan mainstream umat islam dengan keindonesiaannya.

Di beberapa media saya baca kondisi semakin memanas, kepada tingkat saling siaga, saling mengancam untuk melakukan tindakan kekerasan.
Dan yang saya sangat prihatinkan... Mereka semua saudaraku... muslim juga, muslim NU, muslim FPI...

Wahai para ulama' tidak Anda yang mulia tidak menyadari ini...?
Wahai Penguasa bertindaklah adil dan arif dalam menyikapi ini....
Wahai saudaraku...? lupakah kalian bahwa muslim itu bersaudara...?

Duduklah bersama... bukalah kembali Al-Quran-mu, hadits Nabimu... renungkanlah tanpa nafsumu...!!
Musuh kita bukan saudara kita sendiri... melainkan kafir penjajah yang telah membuat kita menderita!!

Ya Robb, satukan kembali hati kami, turunkan hidayah-Mu untu kami....
Berikan kepada kami pemimpin yang bisa menjadi wakil-Mu menjalankan aturan-Mu
meneruskan tugas kenabian, dan kepemimpinan menurut manhaj kenabian...
Amiiin......

Senin, 26 Mei 2008

AYO MAHASISWA, KAMU BISA!!!

Meminjam slogan sebuah produk minuman berenergi, sore ini saya menyemangati adik-adikku yang sedang berdemo di beberapa kampus di Indonesia. "AYO MAHASISWA...!! KAMU BISA!!!

Memang sampai sore ini 25 Mei 2008, Demo masih berlangsung di beberapa tempat, antara lain di UKI Cawang, di kampus UNHAS dll. Silahkan orang mau menyalahkan saya karena saya menyemangati mereka... ya karena yang mereka teriakkan adalah sebagian 'kebenaran' yaitu mengingatkan pemerintah agar kembali menurunkan harga BBM.

Berhasil atau tidak, Wallohua'lam hanya Allah yang tahu dan berkehendak...yang jelas mereka telah berihhtiar. Dan sejarah telah mencatat bahwa mahasiswa punya peran penting dalam setiap perubahan di negeri ini.

Masih saya ingat 10 tahun yang lalu saya juga larut dalam demonstrasi meminta Pak Harto turun, menikmati kasur atap gedung DPR/MPR, hingga diusir di malam buta dipaksa keluar gedung rakyat tersebut. Terus terang momen kali ini kembali membakar semangat saya untuk ikut ambil bagian perjuangan tersebut, sayang... kesibukan mencari sesuap nasi hanya bisa memposisikan aku sebagai pengirim doa saja dan menuliskan kata2 simpatik sambil duduk enak di depan layar komputer.

Selain menyemangati, tentunya saya juga mengingatkan... bahwa yang kita tuntut hendaklah perubahan yang jelas, tidak sekedar turunnya harga BBM... dan masalah-masalah lainnya. Kita mesti belajar dari gerakan Reformasi - yang pada akhirnya sekarang hasilnya repotnasi... (ups..! tentu saja ini bukan salah mahasiswa & pemuda) mereka sudah mengentarkan kita ke gerbang... hanya pelaksana2-nya selanjutnya saja yang masih memiliki paradigma konsep yang sama.

Gerakan reformasi dulu terjebak pada "hanya turunnya pak harto" dan menuntut ditegakkannya demokrasi & kebebasan. Padahal justru tuntutan kedua inilah yang semakin membawa kita ke dalam jurang kebangkrutan. Karena kebebasan dilaksanakan tidak hanya dalam hal mengemukakan pendapat... kebebasan telah melegalkan kebebasan berekspresi... ekspresi apapun termasuk "ekspresi pornografi & pornoaksi", kebebasan 'merampok' hutan... dll (bersambung).

Senin, 03 Maret 2008

‘REVOLUSI SOSIAL’

Menarik sekali untuk saya sampaikan di sini tentang percakapan malam minggu kemaren. Dalam sebuah acara kumpul warga satu RT kami sempat ngobrol tentang berita2 yang terjadi di tanah air tercinta akhir-akhir ini.

Mulai dari masalah PLN yang mau naik, dengan segala programnya yang sepertinya makin menyulitkan kita saja. Juga tentang harga premium, yang juga mau naik jadi Rp.8000,-, juga dengan program smart card-nya yang katanya satu orang pengendara motor hanya boleh membeli 1 liter sehari… Huh! tidak masuk akal…, bagaimana dengan teman saya yang bekerja seharian dengan motor keliling Jabotabek…?

Ada juga obrolan tentang, kelaparan yang terjadi di sulawesi, seorang ibu dengan 2 anaknya meninggal gara-gara 3 hari tidak makan…, innalillah, astaghfirulah…
Ternyata masih ada rakyat kita yang mati kelaparan, bahkan jumlahnya ksusnya makin bertambah… setelah 63 tahun merdeka. Di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi ini, di negeri yang katanya bagaikan potongan surga di dunia ini… di negeri yang rakyat & pemimpinnya agamis, berbudaya gotong royong dan tolong menolong ternyata lagi-lagi ada rakyat yang mati kelaparan.

Dan yang sangat membuat kita geram, tidak ada komentar apapun dari pemimpin pujaan kita itu… beliau diam seribu bahasa untuk hal2 yang seperti ini, malah kata2 menyakitkan keluar dari mulut penguasa setempat… “Tidak ada kasus kelaparan di kabupaten saya…” seperti biasa. Lalu mereka yang mati itu rakyat siapa Pak Bupati…? rakyatmu atau hanya binatang…?

Belum selang 24 jam kami ngobrol…, besok sorenya hari Minggu, ada lagi berita yang mengejutkan… seorang Jaksa tertangkap tangan sedang bertransaksi menerima uang 6 Milyar dari seorang Pengemplang uang rakyat (Kasus BLBI) yang jumlahnya puluhan trilyun rupiah. Dugaan kuat sementara adalah uang itu merupakan suap untuk penutupan kasus BLBI konglomerat hitam tersebut, Wallohu a’lam.


Hmmm…., Pantas saja negeri ini makin lama makin terpuruk, bencana tiada henti, sepertinya tiada berkah lagi turun dari langit, yang ada bencana dan bencana… serta cobaan2 yang bertubi-tubi, Karena faktanya penguasa2 kita kelakuannya seperti itu… yang terasa oleh kita hanya selalu menyengsarakan rakyat bawah, dengan berbagai kebijakan yang menekan, kemudian aparatnya dipenuhi dengan para penipu, koruptor dan orang2 licik serta rakus… naudzu billah.

Pantas saja, kemaren sahabat saya yang sabar dan pendiam saja sempat melontarkan kata-kata pamungkasnya…”REVOLUSI SOSIAL saja!!” yah.. revolusi sosial katanya… Saya tidak bisa membayangkan, jika ini sudah diucapkan 10 juta rakyat Indonesia saja. Tapi ya itu lah… mungkin sebagian rakyat memang sudah benar2 muntah melihat kondisi negeri ini.

Ya robb, berikan petunjuk padaku, pada kami dan pada pemimpin2 kami agar kembali kepadamu, kembali patuh kepada aturan2-Mu, sehingga tak segan2 Engkau curahkan berkah-Mu dari langit dan bumi.

Wallahu a’lam

Haris