Selasa, 22 Januari 2008

Selamat jalan mbak Siti



sepenggal kisah hidup

Rasanya air mata ini tak bisa kubendung, ketika aku mulai rangkai kisah demi kisah, hari-hari yang masih sempat kuingat tentang mbakyuku Siti Nasihah almh.
Betapa tidak, Orang paling tegar yang kukenal sepanjang hidupku dengan hitungan waktu yang tak begitu panjang harus menderita sakit kanker, dan kemudian meninggal dalam dekapan kami bersama.

Sebagai manusia memang tak luput dari dosa, emosi ataupun khilaf di masa hidupnya. Namun jika dibandingkan dengan kebaikannya, rasanya tak sebanding. Saya, saudara-saudara saya, suaminya menyaksikan, bahwa dia adalah wanita sholehah, istri yang sabar bagi suaminya, ibu yang penyayang bagi putra-putrinya, saudara yang paling hangat diantara kami, dan anak yang sholeh bagi ayah & bunda kami.

Mbak Siti,
Rasanya belum setimpal kebahagiaan yang kau dapat di dunia ini dibanding kesabaranmu dalam menghadapi berjuta dera dan derita. Namun aku yakin, kebahagiaan yang tak kau dapat itu adalah kebahagiaan yang tertunda, yang Insya Allah, Dia sendiri yang akan memberikannya langsung kepadamu dengan segala sifat kesempurnaannya.

Masih kuingat betapa hangatnya cerita2 pengantar tidurmu yang hingga kini masih belum hilang dari memoryku. Masih kuingat kerja kerasmu dari mulai membuat 'agar-agar' dan aku yang menjualnya... masih juga kuingat siang malam engkau menggerakkah kakimu menjahit untuk menghidupi anak-anakmu...
Ah.. rasanya semuanya kini masih terjadi, rasanya engkau belum mati.. ya engkau memang belum mati dalam benakku...

Selamat jalan Mbakyuku tercinta...,
doaku untukmu selalu terselip diantara munajatku.

Rabu, 12 Desember 2007

GLOBAL WARMING, dalam ocehan anak saya


Sebuah analisa pribadi.
By: Haris

Waktu saya menulis topik ini, hajatan akbar dunia yang bernama UNCCC (United Nation Climate Change Conference) di Bali belumlah berakhir. Serangkaian agenda masih terus berlangsung, mulai dari seminar, diskusi, klausul-klausul sampai dengan "seremoni" tanam pohon dll tampak menghiasi layar kaca kita.

Berbagai dialog dan liputan-pun digelar oleh berbagai stasiun TV. Sampai suatu sore, baru saja aku masuk rumah selepas pulang kerja anak saya sudah memberondong pembicaraan dengan topik Pemanasan Global, terlalu dini sebenarnya untuk anak seumuran dia membicarakan ini. Tapi itulah anak saya, mungkin karena terbiasa mengikuti pola nonton TV saya dan istri yang sering nonton TV hanya pada acara2 yang penting saja, semisal berita, tayangan lain kalo nggak benar2 bermutu / bagus kami malas menonton. Maklum saja, TV kita sudah seperti sampah yang setiap hari berisi hal-hal yang justru merusak karakter kita, mulai dari kekerasan, maksiat, Pornografi, pornoaksi... dll.

Kembali ke anak saya. Sambil melepas sepatu, anakku yang baru berusia 7 tahun itu berkata: "Pak, pak... aku takut sekali lho sama pemanasan global.." Aku tersenyum, lalu balik bertanya: "Emang apaan pemanasan global, tahu dari mana?" dengan tetap mengacuhkannya. "Dari TV, tadi ada di TV pemananasan globa itu bahaya... bisa jadi banyak gunung meletus, gempa bumi, badai, angin puting beliung, banjir.... malah katanya di jakarta deket mas rafi air lautnya sudah meluap".terangnya panjang lebar. "Tapi kita kan nggak kena" kataku. "Lama-lama bisa kena juga Pak... makanya kita nggak usah pake kulkas sama AC aja.., katanya itu juga bikin pemanasan Global... ya pah, copot aja tuh AC-nya.. aku takuuut.." "Tar kepanasan..?" sahutku santai. "Nggak apa-apa, kita pake kipas aja..." Aku menuju kamar sambil tersenyum ke Istriku... Istriku juga mengerti dan geli melihat tingkah anakku.

Sampai malam, rupanya anakku masih kepikiran dengan efek pemanasan global... Aku semakin sadar ketika biasanya menjelang Tidur ia Sholat Isya' sekenanya, kali ini agak lain... Sholatnya agak serius... dan setelah itu berdoa sambil matanya menahan air mata. Aku dekati dia, "Sudahlah Nak, memang pada suatu saat bumi ini akan hancur, entah oleh pemanasan global enath oleh sebab lain, itulah yang dinamakan kiamat, dan kita semua akan mati... yang terpenting adalah setelah mati kita mesti berada dimana? di surga atau neraka...? Kalo pengen di surga kita mesti hidup bener, rajin ibadah... jauhi perbuatan jelek.. ya.., sudah bobo' sana..." Dia menuju kamarnya... setelah lelap, tiba-tiba dia bangun dan menangis... sambil berkata "takuut... takuuut"... Hehehe rupanya pemanasan Global itu terbawa mimpi olehnya.

Pembaca.., petikan di atas benar2 terjadi dalam keluarga saya.
Yang jadi pertanyaan saya adalah apakah kita yang dewasa juga benar-benar takut seperti anak saya menghadapi Global Warming tsb..? Apakah Pemimpin-pemimpin bangsa yang punya kuasa yang sedang berkumpul di Bali itu benar-benar mencurahkan pemikiranya ttg Global Warming itu sampai terbawa mimpi seperti anak saya..?
Saya yakin tidak.

Sebab kalo iya, bukan sekarang mereka baru membicarakanya... melainkan berpuluh-puluh tahun yang lalu mereka sudah berbuat, karena saya yakin mereka ribuan kali lebih pinter dari anak saya. Dan yang paling penting dari petikan cerita anak saya adalah.. maukah mereka memutuskan untuk segera membuang jauh2 apa yang mereka sengangi seperti anak saya yang ingin segera mencopot AC dan membuang kulkas di rumah....
Sekali lagi saya yaki tidak...

Yang ada hanyalah himbauan untuk sekedar berhemat, yang ada hanyalah "pura-pura" menanam, sementara bersamaan dengan itu mereka membiarkan kerusakan bumi menjadi-jadi. Membiarkan "pembangunan" liar tanpa memperhatikan lingkungan lagi. Membiarkan bahkan melindungi perampok hutan dengan topeng sehelai surat ijin HPH...

Aduh kok jadi emosi begini ya pembaca... ya sudah lah, saya yakin pembaca juga tahu arah pembicaraan saya.
Darpada ngelantur mendingan saya sudahi, lain kali disambung. Tks.

Jumat, 07 Desember 2007

QURBAN, Menyembelih Sifat Hewani Kita

QURBAN, Menyembelih Sifat Hewani Kita
Sebuah perspektif pribadi
By; Haris


Beberapa hari lagi kita merayakan Hari Raya Iedul Adha, Jamaah Haji sudah banyak yang berangkat ke tanah suci, tanah impian bagi kita semua. Mungkin tinggal yang Jamaah Haji Plus atau ONH Plus yang belum berangkat. Karena memang Orang-orang plus ini mengambil rukunnya saja dalam menjalankan ibadah haji... jadi praktis mereka berangkat paling terakhir dan pulang paling duluan. Kondisi & fasilitasnya pasti juga lain dengan jamaah Haji biasa, menginap di Hotel Bintang 5 atau 4 minimal, kemana2 diantar dengan mobil Hotel... Pokoknya serba wah dan VVIP.

Sementara bersamaan dengan itu kaum muslimin yang mampu di tanah air sudah mulai keliling2 mencari hewan untuk berqurban nanti di hari Iedul Adha. Jakarta dan sekitarnyapun sedikit berubah wajah, Jadi banyak kebun binatang dadakan disana-sini.. bau Jakarta yang sebelumnya cuma bau selokan dan sampah pun makin menyengat ditambah bau apek dan pesing-nya kotoran sapi dan kambing.

Membicarakan tentang Qurban, mungkin kita sudah sama-sama faham, bahwa Qurban adalah sebagai salah satu ungkapan syukur kita kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya yang teramat banyak. Selain juga sebagai upaya pendekatan diri kepada Allah. Qurban berasal dari bahasa arab QOROBA = dekat, dan QURBAN sebagai gerund atau kata kerja yang dibendakan jadi berarti Pendekatan, atau upaya pendekatan kepada Allah.

Hari-hari mendekati Idul Adha juga sudah berseliweran mail box sya tentang kisah-kisah yang menyentuh iman kita dimana banyak drama kegigihan seorang hamba dalam melaksanakan cita-cita Qurban. Ada kisah seorang nenek tua yang tidak pernah absen berQurban walau hidup serba kekurangan, sehari dia menabung 3000 perak dari hasil pekerjaan tanganya membuat sapu lidi. Ada yang membongkar 'celengannya'yang sebenarnya buat pendaftaran sekolah anaknya di bulan Juni nanti, dan lain sebagainya.

Memang kalau kita hitung-hitung amatlah wajar apa yang mereka perbuat. Sebab memang Qurban bukanlah ibadah yang terlalu mahal jika dibandingkan dengan biaya kita berbuka puasa di bulan Romadhon, masih agak ringan dibanding biaya mudik lebaran... apalagi dibanding naik haji yang sangat mahal itu. Masalahnya adalah Ibadah ini jarang kita siapkan di jauh-jauh hari, di bulan Muharam misalnya... Qurban baru teringat ketika kita sudah memasuki bulan Dzulhijjah.. dan sangat berat mengumpulkan dalam waktu uang sebanyak itu untuk membeli seekor kambing. Dan yang terjadi hati kita berkata: "InsyaAllah tahun depan saya akan berqurban"...

Menyembelih Sifat Hewani Kita.
Kata Ustadz dimana aku sering bertanya, Dia punya perspektif lain dalam memahami makna qurban. Selain sebagai rasa syukur dan pendekatan kepada Allah, Qurban juga dimaknai sebagai sebuah symbol penyembelihan sifat hewani kita> ...>
Memang sering membingungkan Ustadz ini. Iya, katanya lagi Puasa Romadhon & bersilaturrahmi di Idul Fitri sering tidak cukup membuat kita berubah, kita selalu kembali ke sifat, sikap dan karakter lama kita, yakni kembali seenaknya dalam hidup, tidak mau ambil pusing urusan orang lain walau orang lain menahan lapar dan hampir mati, sikat sana fitnah sini, seruduk sana tabrak sini, mengaum berteriak-teriak lantang membicarakan aib saudaranya... Pendeknya kita tak ubahnya seberti binatang ternak yang hina.

Eit jangan marah teman, itu bukan saja kata Ustadz saya lho, di Qur> '> annya juga ada.. tapi aku nggak hafal ayatnya.

Maka Qurban kembali datang mengingatkan kita kepada siapa saja, bahwa Dimulai Iedul Adha tahun ini, mari kita sembelih sifat-sifat binatang kita, mari kita buang jauh-jauh karakter hewani kita. Dan kembali pada fitrah mulia kita yakni FII AHSANI TAQWIIM... sebaik-baik penciptaan Allah.
"Sesungguhnya manusia diciptakan dengan sebaik-baiknya bentuk. Kemudian kami merubahnya menjadi derajat yang paling rendah. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh ... maka banginya pahala..." ila akhiri ayat (At-Tiin)

Wallohu a'lam.

Minggu, 02 Desember 2007

NIKMAT membawa SENGSARA

Sehelai Pengalaman Hidup.
By: Haris

Seharusnya SENGSARA membawa NIKMAT seperti karya novel Abdul Muis yang melegenda itu...
atau NIKMAT membawa nikmat.. seperti kemauan setiap manusia... Lahir dari keluarga kaya nan beriman, besar tercukupi harta dan ilmu.. dewasa tinggal meneruskan kekayaan orang tua, dan mati masuk syurga... hehehe... cita2 setiap orang.

Namun kali ini saya sajikan tulisan NIKMAT membawa SENGSARA... atau bisa juga diberi judul BAIK membawa BURUK...
atau PAHLAWAN yang DITAWAN... hehehe.. terlalu bombastis kali ya.

Tapi itulah yang kami rasakan, Niat baik, itikad baik... ternyata tidak selalu berakibat baik... Nikmat yang rencana kami persembahkan kepada orang lain... justru berbalik arah dan berubah menjadi kesengsaraan...
Bagaimana tidak...? Keresahan terjadi karenanya, Beberapa ibu-ibu menangis karenanya, kerekatan silaturrahmi menjadi retak karenanya amarah, kebencian, dendam, gunjing, ketidak percayaan... kebohongan... justru tumbuh subur karena KENIKMATAN / KEBAIKAN yang saya lempar ke tengah-tengah masyarakat yang "plural" pandangannya.

Saya baru menyadari, betapa berbuat baik itu tidak mudah, berbuat baik tidak selamanya mendatangkan kebaikan... selama dasar perbuatan baik dan dimana perbuatan baik itu dilakukan atas aturan dan nilai manusia... Artinya kebaikan standar manusia.. adalah suatu hal yang relatif, atau nisbi... tergantung siapa yang memandang, tergantung isi kepala dan isi dada masing2 orang.

Inilah yang ingin saya gali... lantas bagaimanakah KEBAIAKN MUTLAK itu...? yang tidak ada embel2 keburukannya sama sekali......?
Berbicara tentang KEBENARAN atau HAQ, saya jadi ingat Doa dalam sholat tahajud yang banyak mengandung kata2 HAQ... yang intinya seluruh kebaikan dari Allah adalah HAQ alal HAQ... artinya sebuah kebenaran mutlaq.

Mungkin inilah yang seharusnya menyadarkan saya, bahwa setiap perbuatan baik harus benar-benar difikirkan apakah kira-kira Haq menurut Allah...? kalau itu sudah difikir... tidak berhenti sampai disitu... apakah orang lain juga sudah karena
Allah dalam memandang kebenaran....? sehingga SEBAB dan AKIBAT atau AKSI & REAKSI sebuah perbuatan sama-sama disandarkan pada maunya Allah, kebenaran Allah..

Tapi itu sulit ya...
Betapa tidak, faktanya kita pun masih berbeda dalam memandang Allah... siapa Allah, maunya Allah dan bagaimana cara kita hidup sesuai maunya Allah.
Ya... saya bilang sulit,
tapi bukan tidak mungkin... jika Allah sudah berkehendak, dan kita benar2 mau memperjuangkannya.


Wa4JJI a'lam bisshowwab.

Kamis, 29 November 2007

IBUKU, "Wanita Perkasa"

Bismillah...

Saat sedang mengalami masalah berat seperti ini, seperti biasa sebagai orang yang imannya masih labil, aku teringat Allah... aku kembali agak serius dalam sholat, agak lama doanya... pake menitikkan air mata segala, saya nggak tahu air mata buaya kali ya, hanya Allah yang tahu... karena dikala senang, seperti biasa aku lupa lagi, aku hanyut dalam hal2 yang "laghwi" lagi.

Selain jadi ingat Allah sebagai baking terakhir yang diandalkan, aku juga teringat Ibu.. ya ibuku yang nan jauh disana... ibuku yang juga sedang berkutat dengan penderitaannya karena sakit stroke yang sudah diderita 2 tahun ini. Ibuku yang sekarang susah sekali berkomunikasi, karena kata dokter ada syaraf bicara yang tidak berfungsi...

Tapi Alhamdulillah, Allah masih sayang sama beliau, masih diberi kekuatan untuk Sholat, dzikir, berjalan walau pelan-pelan, dll. Ah, aku jadi sangat merasa berdosa karena tidak bisa selalu berada didekatnya. Pdahal aku sangat tahu bahwa beliau sangat sayang padaku... 3 / 4 tahun yang lalu., jika aku menghadapi masalah-masalah berat, ibuku selalu seperti merasakan juga., dan segera bertanya aku kenapa? Dengat taku-takut aku biasanya kemudian mengadu kepadanya... sampai seringkali menangis bersama... tangannya yang lembut membelai belai kepalaku, kadang memijat-mijat pundakku, dll yang menambah aku jadi merasa nyaman.

Beliau selalu berucap, sabar... pasti masalah segera berakhir., banyak berdoa, dan Ibu juga akan selalu berdoa. Sambil terus dipijat, akhirnya aku tertidur sampai kira-kira jam 3.30 dini hari, ada rasa air dingin membasuh mukaku, rupanya ibuku dengan tangan yang masih basah oleh air wudzu membangunkanku... Beliau berkata dengan lembut: "katanya mau sholat..?" dengan malas aku jawab: "iya bentar, Ibu sudah...?" "sudah 2 jam..." jawabnya... Hmmm??

Tak terasa aku tidur lagi... Jam 4.20 Ibu membangunkanku lagi... dan posisi beliau masih tetap sama... dengan mukena masih terpakai, diatas sajadah kumal, serta tasbih di tangan... beliau berkata: "bentar lagi shubuh, cepetan wudhlu kita berjamaah Shubuh..."

Rabu, 28 November 2007

KELEBIHAN DIBALIK KEKURANGAN

Pak Hadi, itulah namanya. Seorang kenalan dan tetangga dulu waktu keluarga kami mengontrak di kawasan Islamik.. Jangan bayangkan rumah-rumah mewah itu ya...hehe. Ya kami tinggal di rumah petak komplek kontrakan yang terletak tidak jauh dari gerbang utama Islamic Village, dimana di sebelah kontrakan kami yang berjajar 15 petak... berdiri sebuah rumah... hehehe ya sebuah rumah yang panjangnya sama dengan 15 rumah petak kami.. dan lebarnya mungkin 7 kali lipat...

Mungkin tidak usah banyak dibandingkan, nanti bikin iri... yang jelas itu kenyataan yang ada di tanah air kita..

kembali ke Pak Hadi.
Hari senin, 26 Nov 2007 kemaren sekitar ba'da maghrib aku berkunjung ke komplek kontrakan tersebut, atas undangan dari pemilik kontrakan yang sedang mengadak syukuran khitanan putranya.. setelah ngobrol, makan dan beramah tamah, aku berpamitan kepada sohibul hajat untuk sekedar berkeliling berkunjung ke tetangga2 yang kebetulan masih tinggal di situ. Tidak semuanya masih ada, maklum sudah 4 tahun aku pindah dari komplek itu.

Aku bertanya kepada tuan rumah, apa pak Hadi masih tinggal di sini? "ya, masih ada, dan tidak bergeser dari tempat yang lama"... Ok, tks saya akan mampir sebentar...
Aku langsung melangkah ke pintu petakan pak Hadi yang jaraknya mungkin hanya 20m, sambil menggendong anak saya yng 14 bulan dan diikuti putra pertama saya yang 7 tahun.. sampai didepan pintu yg masih tertutup aku ucapkan salam, "Assalamu'alaikum..!!" anak saya juga ikut-ikutan berteriak "assalmu'alaikum..." tidak kalah nyaring..
dari dalam langsung ada jawaban "Waalaikum salaam, weee pak hariis..., sama ilham ya....???" ilham nama anak saya yg 7 tahun.

Betapa kagetnya saya... aku berucap dalam hati "subhanaLLoh"... kenapa...?
Pak Hadi dan istrinya ini maaf, Buta.... ya buta.. matanya tidak dapat melihat sejak lahir. tapi subhanallah, kepekaan telinganya, ketajaman ingatannya sangat luar biasa... bayangkan, 4 tahun kami tidak bertemu, dan dulu bertetanggapun jarang-jarang ngobrol... tapi dia masih ingat suara saya, anak saya, bahkan umur anak saya waktu mau pindah... perubahan tinggi badan anak saya, dia tahu persis... masya Allah....

Spontan kami berpelukan... sambil terus bicara panjang lebar... tangannya menggapai-gapai kepala anak saya ilham... Dia juga segera tahu kalau saya juga menggendong balita... luar biasa, sungguh Allah Maha Adil...
Yang tidak saya habis pikir, 4 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk mengingat suara orang, kadang kita kenal sama orang sebulan saja bisa lupa namanya, apalagi suaranya... dengan Handphon canggih yang sudah pakai teknologi 3G yang suaranya sangat jernih saja sering kita tidak bisa mengenali suara teman kita, jika memang nomornya tidak dikenal...

Tapi ini.. subhanallah. buka itu saja... beliau tahu perkembangan berita lewat radio, dan menggambarkannya seperti dia tahu yang sebenarnya, dia juga tahu jalan-jalan yang berlika liku kampung saya, sehinnga dia yakin bisa ke rumah saya suatu saat. Dia juga tahu jumlah kecamatan.. kelurahan di Kota saya Pekalongan... yang hehehe... say sendiri tidak tahu....

Telinga dan ingatannya benar2 lebih tajam dari pada mata kita... subhanallah....
Saya yakin ini kekuasaan Allah..., selain memang dia benar-benar menggunakan indera selain matanya sebaik-baiknya sebagai wujud syukurnya kepada Allah.

Ini, sebagai Dzikir buat kita, ayat kauniah dari Allah buat kita... bahwa sudah selayaknyalah kita menggunakan indera kita semaksimal mungkin untuk digunakan sebagai mana mestinya menurut kemauan Allah SWT. Agar kita tidak termasuk orang-orang yang disindir Allah dalam surat YaaSiiin, yaitu: "Mereka diberi penglihatan, tetapi tidak mau melihat, meraka diberi pendengaran tetapi tidak mau mendengar... diberi akal tapi tidak mau berfikir." Naudzubillah mindzaalik..

Untukmu Pak Hadi, saudaraku..
Semoga Allah lebih mencintaimu.

Wallahua'lam

Haris

Kamis, 22 November 2007

KITA INI JUGA 'SESAT'..??

Sembari menyiapkan diri berangkat ke kantor, pagi ini aku sempatkan nonton berita di TRANS 7 & TRANS TV yang dikemas dan dibawakan secara santai oleh masing-masing aktor & aktris kondang.

Di dua acara yang berbeda jam tayang itu ternyata ada 2 berita yang sama persis, yakni tentang ALIRAN SESAT... yang beberapa minggu sebelumnya sempat nangkring di posisi jawara... hehe kayak lagu aja, maksudnya sempat menjadi top news di berbagai media. Kita masih ingat betapa geregetannya kita melihat--maaf sebut nama Ahmad Mussadeq Al-Maw'ud.. (sory pak Ahmad ya kalo salah spell Namanya..) dengan ujug-ujug, atau tiba-tiba mengaku Rasul setelah Rasulullah Muhammad SAW.

Berbagai reaksi timbul di Masyarakat sesuai dengan kapasitasnya masing-masing, yang di lingkungan orang awam karena kapasitasnya hanya bisa marah dan 'nggebugin', ya segera saja gedebag gedebug nggebugin anggota jamaah Musadeq tersebut yang rata-rata ngeyel dengan keyakinannya tsb.

Sementara di tingkat Aparat Keamanan dan MUI juga bereaksi, sampai pada akhirnya dalam hitungan hari Pak "Rasul" itu memproklamirkan dirinya bertobat dan mencopot gelar Rosulnya sendiri yang dulunya dipasangkan sendiri juga.

Seketika itu, suasana dalam "Dunia Berita" maupun masayarakat kembali tenang... dan kembali berpusing-pusing dengan pemberitaan2 lain yang tak kalah bikin puyeng juga. Diantaranya berita Vonis Bebasnya pencuri hutan Adelin Lies, Penculikan, Ricuhnya PILKADAL..., Naiknya Pertamax yang diam-diam.., Dugaan-dugaan korupsi yang makin memperbanyak daftar terdakwa saja... dan ratusan berita lainnya yang Whhhuueeeek!! bikin muntah kalo dilihat dan difikir...

Kembali ke aliran sesat... tentu saja reaksi spontan pemikiran saya pagi tadi, yang mencoba aku ingat-ingat pada saat menulis posting ini.
Terus terang sebagai orang awam aku belum berani menjustifikasi terhadap aliran manapun atau kelompok manapun... kecuali yang jelas2 bukan seagama kali ya... karena kedangkalan ilmu saya kali ya. Yang mwngusik pikiran saya adalah Bgaimanakah kategori "SESAT" menurut yang sebenarnya... tentu saja menurut Allah SWT, bukan menurut kelompok kita, bukan menurut MUI (dengan tidak mengurangi rasa hormat..), dan yang jelas bukan menurut kepentingan apapun kecuali kebenaran.

Sebab yang bikin saya heran siapapun bisa "ikut-ikutan" mengatakan si ini sesat si itu sesat... tapi meraka jarang bisa berkata... aku sesat atau tersesat... dan harus segera memperbaiki diri supaya tidak sesat. Arah pemikiran saya adalah mengapa sesat dimaknai begitu sempit dan tidak substansial, artinya orang dicap sesat hanya ketika dia "menyatakan" diri berbeda dari mainstream keyakinan yang ada. Bukan penilaian itu dialamatkan kepada sebuah "tindakan" orang / kelompok yang mungkin menurut saya jelas-jelas menentang Allah... yang pastinya juga sesat...

Hehehee..... Pembaca pasti bingung ya menangkap arah tulisan saya... maklum baru latihan, jadi kalo nggak enak pasti... isinya kosong... mungkin.
Kongkritnya adalah begini, saya ingin memaknai SESAT (DZOLAL) dan TIDAK SESAT secara lebih luas, karena menurut saya Sesat itu bisa diartikan dengan dosa atau pelanggatran apapun walau itu sangat kecil terhadap aturan-aturan Allah, sedang tidak sesat adalah Hudan / Hidayah yang pada prakteknya manusia selalu dalam koridor keinginan Allah menurut Qur'an & Sunnahnya...

Jadi singkatnya, kalau kita lagi malas melaksanakan ibadah-ibadah wajib... menurut saya ya SESAT juga, misalkan kita melalaikan Sholat, Tidak peduli dengan Fakir Miskin, Tidak mau berhukum dari Allah secara total, dll... Juga berkoar-koar mengatakan / atau mencap sesat orang lain sementara dia tidak menutup aurat sebagaimana aturan Allah.... Maka dari itu mari dengan kerendahan hati sama-sama kita berkata "SAYA SESAT". Dan kalau itu sudah menjadi kebiasaan kita bahkan sudah kita anggap benar "pelanggaran2" kita itu... maka jangan malu-malu kita akui kita telah BERALIRAN SESAT... bahkan mungkin BERIDEOLOGI SESAT...

Sekali lagi maaf, mohon pembaca tidak tersinggung... anggap saja saya berbicara dengan diri saya sendiri... Karena sebenarnya kalo kita mau merenung bahwa Allah juga selalu mengingatkan bahwa kita adalah mahluk yang tidak jauh dari kesesatan dalam mengarungi kehidupan kita sehari-hari. Makanya Allah juga mengajarkan kepada kita untuk setiap kali berdo'a: "ROBBANAA DZOLLAMNAA ANGFUSANAA WAINLAM TAGHFIRLANAA WATARHAMNAA LANAKUUNANNAA MINAL KHOOSIRIIN". Ya rob, sesunggungnya kami telah SESAT, dan jika engkau tidak mengampuni kami, niscaya kami termasuk golongan orang yang rugi...

Nah, ternyata ngaku SESAT juga kan kita...? eh maaf saya...
Wallohu a'lam bishowwab.

Haris